Belajar Ikhlas
Malam itu, saya mengunjungi sebuah kafe kecil dipinggir kota, yang jauh dari hiruk-pikuk jalan dan bising klakson yang bersahutan. Hari hampir malam, menuju senja yang kian tenggelam. Ya, memang saat itu adalah jam saya pulang dari rutinitas keseharian; kuliah. Lantas saya segera masuk ke dalam kafe tersebut, hari-hari saya memang lebih sering dihabiskan sendiri, entah untuk mengerjakan tugas atau sekedar ingin melepas penat dari keseharian.
Saat saya masuk, seorang Barista memberikan salam hangat, kemudian saya pesan kopi favorit saya, yap capucinno dengan sedikit gula. Saya mencari tempat ternyaman untuk mengerjakan tugas kali ini, tepat dipojok dekat tangga terlihat jauh dari keramaian, duduklah saya disana dan membuka laptop dari tas jinjing yang sedari tadi saya bawa.
Namun, ketika sedang asyik mengetik dan menyeruput capucinno hangat, tidak sengaja saya melihat sosok yang tidak asing, ya, benar saja. Itu adalah dia, lelaki yang sempat mengisi kekosongan hati, namun lebih memilih pergi dan menyudahi kisah yang dulu begitu berarti. Saya pandangi perlahan, ternyata dia tidak sendirian. Ada seorang puan disampingnya, ah mengapa saya masih saja perhatian? Seharusnya, kan saya sudah melupakan dan tak perlu menghiraukan apapun yang ia lakukan dan apapun pilihan yang kini ia sedang jalani.
Langkahnya semakin mendekat "hai, apa kabar?" sapanya dengan senyum yang syahdu "ba..i.k, masih mengenaliku?" jawab saya yang kebingungan. "tentu, bagaimana ku lupa?" katanya, hati pun sudah senang jika ia berkata begitu "ohiya, kenalkan. ini pacarku" sambungnya dengan meluluhlantakan hati saya seketika.
Sejak saat itu, saya berusaha untuk berdamai dengan apapun yang terjadi dimasa lalu. Seindah-indahnya saya merangkai sebuah kisah dengan seseorang, bukannya itu hanyalah sekadar kisah? Ah, saya saja yang terlalu lebay. Melihat ia dengan puan baru harusnya hati saya tenang, karena dengan begitu semesta telah menyembuhkannya dari luka yang saya buat saat kami masih berhubungan. Iya, memang saya pelaku yang membuatnya benci dan kecewa beberapa tahun lalu.
Ternyata, semesta baik ya. Menyembuhkan luka seseorang yang paling saya sayangi, walaupun sebenarnya hati tidak bisa dibohongi. Kelak, saya yakin bahwa puan itu mampu membuatnya lebih semangat menjalani hidup. Kini, tugas saya hanya fokus untuk mimpi-mimpi yang belum terwujud. Teruntuk dia, semoga semesta selalu menyayanginya dengan rasa bahagia.
sumber foto: pinterest

Keberanian untuk memaafkan yang awalnya memang sulit. Good 👍
BalasHapus