Dunia yang beda, tak mampu menghapus rasa dalam sekejap mata
Sumber foto: pinterest
Hujan petang kemarin, menjadi saksi bahwa dua anak manusia pernah saling menyayangi. Sebelum akhirnya salah satu diantara mereka pergi. Ya, hujan hari ini mengingatkan saya pada sosok lelaki yang sempat menjadi alasan saya bahagia setahun lalu, yang mampu menciptakan gelak tawa ketika pilu, yang selalu bertemu karena rindu. Ah, apa saya terlalu mendamba dia sebegitu nya?
"Ra? Kamu mau lanjutkan perjalanan ini atau kita berteduh sejenak?" Tanya Diaz saat itu
"Hujannya tidak terlalu besar, mungkin baiknya tetap jalan saja, Yaz. Gapapa." Jawabku
"Kamu yakin? Nanti kamu sakit, Ra." Katanya untuk meyakinkanku
"Iya, aku yakin, Yaz. Lagipula aku suka hujan tau hehehe." Jawabku sambil tertawa cengengesan
"Yaudah. Nih, kamu pake ini dulu." Kata Diaz yang sembari melepaskan hoodie birunya dan menyisakan seragam saja
"E..eh? Ga usah, kan kamu yang bawa motor. Nanti basah kuyup dan kotor kecipratan kendaraan dari depan." Kataku menolak
"Udah, gaada penolakan ya. Mau pake atau kita diem disini dan ga usah lanjut sama sekali sebelum hujannya benar-benar berhenti." Tegasnya. Membuatku mau tidak mau memakainya.
Dan kita pun melanjutkan perjalanan sepulang sekolah yang dilanda hujan. Bukan hujan, sih. Hanya gerimis tipis saja. Mungkin Diaz terlalu berlebihan, takut saya sakit atau semacamnya.
Diaz, jika kamu tahu bahwa rasa itu masih tertinggal. Apa kamu mau mengulang bersama saya dari awal? Kini dirimu sudah jauh, namun rindu ini selalu berbisik dengan riuh. Seakan semua tentangmu masih utuh. Padahal kita tahu bahwa kisah lama itu sudah lama runtuh. Dan kata kita juga sudah tak pantas disebut dalam sebuah kata. Karena kita sudah tiada. Hanya ada kamu dan saya, semesta kita sudah berbeda. Namun ada satu hal yang saya selalu ingat yaitu kata-katamu "tetap semangat, aku yakin kamu kuat." Seakan kata-kata itu mampu menjadikan saya kembali bangkit ketika sedang berada di titik terbawah. Terima kasih, kamu orang baik yang hadir dalam hidup saya. Saya masih terus berproses, berproses dan akan berproses untuk lebih semangat menggapai impian saya kelak. Saya berharap saat saya sudah mampu mewujudkan segala mimpi, kamu masih ada disini menemani. Tapi, sayang kamu sudah pergi dan takkan pernah kembali. Semoga disana kamu selalu baik di sisi-Nya. Karena saya yakin kamu tersenyum bahagia melihat proses saya, walaupun sudah beda dunia.

Komentar
Posting Komentar