Seusai Kepergianmu


Delapan bulan setelah kamu pergi, memilih jalan lain dan mengakhiri yang "kita" mulai dahulu. Sejak saat itu, bahkan sampai kini, aku masih ingat kebersamaan kita saat bersua. Bagaimana cara kamu menenangkanku, bagaimana caramu menghibur kala hariku tidak baik-baik saja, bagaimana aku dan kamu tertawa bersama di atas sepeda motor saat mengelilingi kota, dan hal sederhana lainnya. Hal sederhana yang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang berharga dan sulit untuk didapatkan.

Kukira kamu akan menjadi pelabuhan terakhir dan menemani hari-hariku hingga akhir cerita, namun pada nyatanya kamu memilih menyudahi segala naskah yang sempat "kita" bangun bersama, akibatnya naskah cerita tersebut tidak memiliki akhir cerita sepeti yang pernah "kita" bayangkan. Tidak seindah kata-katamu saat awal perkenalan, tapi tak apa. Ya. Tidak apa. Lagipula, siapa yang menjamin setiap naskah akan sempurna? siapa yang menjamin setiap cerita punya akhir cerita yang bahagia?

Mungkin, ini cara semesta untuk "kita". Berpisah dan memilih sudah, untuk menyibukkan diri masing-masing, untuk proses pendewasaan, untuk belajar dari kesalahan-kesalahan dan ego yang masih tinggi. Dan "kita" mungkin masih dengan pemikiran yang belum dewasa, menyelesaikan masalah dengan kata pisah menyerah.

Untukmu, baik-baik di sana. Jangan pernah berhenti untuk jadi orang baik, orang yang selalu ceria, orang yang pandai menutup luka dengan tawa dan canda. 

Untukmu, jangan sering-sering begadang, ya. Jaga kesehatan, dan salam untuk keluarga hangatmu. 

Semoga, semesta masih mengizinkan "kita" bertemu menjadi seorang teman, tanpa melibatkan perasaan. 

Semoga "kita" masih bisa bersua menjadi dua anak manusia dengan pemikiran yang lebih dewasa ke depannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permasalahan dan Keresahan

Pertemuan Tak Disengaja

Quarter Life Crisis - Gua Bingung Harus Apa dan Gimana?