Yang Kukira Rumah, Ternyata Hanya Melepas Gundah
foto by: wndr.azr
Jika pada hari itu, hari di mana kita bertemu, aku tidak mengizinkanmu masuk ke duniaku, mungkin aku takkan pernah merasa sehancur ini.
Bukankah kamu tau bahwa duniaku penuh kegelapan? penuh pecahan gelas dan kebisingan yang membuatku tak nyaman. Kehadiranmu bak pelangi yang mampu mewarnai dunia sang gadis monokrom ini.
Kalau pada akhirnya seperti ini, mengapa kau membawa khayalanku begitu tinggi?
Kalau pada akhirnya memang tak bisa, mengapa kau mengungkapkan rasa?
Kalau pada akhirnya berpisah, mengapa kau memberi banyak memori indah?
Awalnya kau adalah orang yang paling tidak mau melihat aku kesepian, namun pada akhirnya kau lah yang meninggalkanku pada pahitnya rasa sepi itu.
Aku tahu sepi itu hanya perasaan, bukan keadaan. Namun, mengapa sambutanmu sangat hangat Tuan?
Luka yang masih basah ini, kembali kau timpa dengan luka yang lebih perih. Bagaikan luka karena goresan yang belum kering, kau basahi lagi luka itu. Lantas, sejak saat itu aku tak lagi bisa membuka hati.
Sejak kamu pergi, aku lebih baik sendiri
Sejak kamu pergi, rasa sepi itu sudah jadi makanan sehari-hari
Patahku biarlah menjadi urusanku, Pelikku juga biarlah aku yang menanggungnya
Untuk segala luka, kuharap waktu membantunya untuk segera mereda
Untuk segala bahagia, semoga kamu temukan bahagia yang tak pernah kamu dapatkan dari ku
Mungkin aku adalah gadis yang gagal memahami bagaimana kamu ingin dicintai, mungkin aku gagal dalam memberi rasa sayang yang kurasa itu cukup
Bagimu memang mudah melepas gadis bodoh sepertiku,
Namun, bagiku sangat sulit melepas seseorang yang sudah kuanggap rumah.
Seperti lirik lagu Amigdala - Kukira Kau Rumah
Kukira kau rumah, nyatanya kau cuma aku sewa dari tubuh seorang perempuan yang memintamu untuk pulang
Kau bukan rumah
Kau bukan rumah
Untukmu, semoga tidak ada gadis lain yang kau sakiti dengan sebegitunya. Kuyakin, kau lelaki baik dan lugu yang mampu memperlakukan wanita sebagaimana mestinya.

Komentar
Posting Komentar