Postingan

Diaz, apa kabar mu?

Gambar
                    sumber foto: pinterest Dibawah langit jingga, saya melangkah terburu-buru untuk sampai halte busway. Hari ini begitu melelahkan seperti hari-hari biasanya, saya pulang dari aktivitas bekerja. Suara klakson dan asap kendaraan menjadi makanan keseharian semua orang yang pulang dari segala rutinitas. Waktu menunjukkan pukul 17.05 pertanda bahwa bus tujuan saya akan sampai lima menit lagi. Lima menit berlalu, benar saja bus yang saya tunggu datang. Masuklah saya ke dalam sana, tak peduli harus berdesakan. Karena tak ada pilihan, jika menunggu lagi itu akan memakan waktu. Sedangkan saya harus cepat sampai rumah ada pekerjaan yang esok harus selesai. Saya berdiri persis dekat pinggir pintu, mengeluarkan headset dan membaca sebuah buku fiksi berjudul Garis Waktu karya Fiersa Besari. Tiga halte sudah berlalu, tak sengaja saya melihat sepasang anak berboncengan dengan seragam putih abu-abu. Ah, saya jadi teringat tentan...

Dunia yang beda, tak mampu menghapus rasa dalam sekejap mata

Gambar
Sumber foto: pinterest Hujan petang kemarin, menjadi saksi bahwa dua anak manusia pernah saling menyayangi. Sebelum akhirnya salah satu diantara mereka pergi. Ya, hujan hari ini mengingatkan saya pada sosok lelaki yang sempat menjadi alasan saya bahagia setahun lalu, yang mampu menciptakan gelak tawa ketika pilu, yang selalu bertemu karena rindu. Ah, apa saya terlalu mendamba dia sebegitu nya? "Ra? Kamu mau lanjutkan perjalanan ini atau kita berteduh sejenak?" Tanya Diaz saat itu "Hujannya tidak terlalu besar, mungkin baiknya tetap jalan saja, Yaz. Gapapa." Jawabku "Kamu yakin? Nanti kamu sakit, Ra." Katanya untuk meyakinkanku "Iya, aku yakin, Yaz. Lagipula aku suka hujan tau hehehe." Jawabku sambil tertawa cengengesan "Yaudah. Nih, kamu pake ini dulu." Kata Diaz yang sembari melepaskan hoodie birunya dan menyisakan seragam saja "E..eh? Ga usah, kan kamu yang bawa motor. Nanti basah kuyup dan kotor kecipratan ken...

Belajar Ikhlas

Gambar
Malam itu, saya mengunjungi sebuah kafe kecil dipinggir kota, yang jauh dari hiruk-pikuk jalan dan bising klakson yang bersahutan. Hari hampir malam, menuju senja yang kian tenggelam. Ya, memang saat itu adalah jam saya pulang dari rutinitas keseharian; kuliah. Lantas saya segera masuk ke dalam kafe tersebut, hari-hari saya memang lebih sering dihabiskan sendiri, entah untuk mengerjakan tugas atau sekedar ingin melepas penat dari keseharian. Saat saya masuk, seorang Barista memberikan salam hangat, kemudian saya pesan kopi favorit saya, yap capucinno dengan sedikit gula. Saya mencari tempat ternyaman untuk mengerjakan tugas kali ini, tepat dipojok dekat tangga terlihat jauh dari keramaian, duduklah saya disana dan membuka laptop dari tas jinjing yang sedari tadi saya bawa. Namun, ketika sedang asyik mengetik dan menyeruput capucinno hangat, tidak sengaja saya melihat sosok yang tidak asing, ya, benar saja. Itu adalah dia, lelaki yang sempat mengisi kekosongan hati, namun lebih ...