Postingan

Menghitung Hari Menuju 2022

Gambar
Dipenghujung tahun, saya hanya ingin mengeluarkan keresahan yang ada pada diri saya saja. Dan mungkin beberapa hal terjadi pada tahun ini terjadi diluar kendali kita, karena ya mustahil memang jika realita selalu relevan dengan ekspektasi yang kita bayangkan. Singkatnya, jangan pernah berekspektasi lebih pada siapapun, pada apapun. Mungkin, perjalanan tahun ini terasa sangat singkat. Bagaimana tidak, dua belas bulan kita lalui banyak hal baru, cerita baru, bertemu dengan orang baru, pengalaman baru.  Dengan semua kondisi yang 'baru' itu, saya pribadi menjadi sosok yang banyak mengamati hal-hal yang mungkin dulu saya tidak tahu. Namun, ada beberapa hal dalam hidup yang jika saya ingin putar kembali, saya ingin memutuskan sesuatu dengan matang, memutuskan sebuah keputusan yang mungkin berdampak pada keseharian, kehidupan, mimpi dan angan saya dimasa depan.  Ya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Kadang, hal yang tidak kita kehendaki, justru terjadi diluar kendali. Sebenarnya, tiap...

Kelapa Dua dan Sepenggal Cerita (2) END

Gambar
  Suatu hari dibulan April, Aku berkunjung lagi ke coffee shop saat aku berkenalan dengan Ardhi. Singkat cerita aku memesan es kopi susu tanpa gula dengan mie pedas level 3. Saat hari itu, aku tidak melihat keberadaan Ardhi lagi. Entah ia sedang libur atau ia pindah tempat kerja, karena Barista yang lain sudah mengenalku juga disini, salah seorang Barista bertanya "Nyari Ardhi, Len?", aku terdiam karena aku tahu rencana Ardhi untuk pindah kota dan otomatis resign dari coffee shop ini. "Ehh... engga, mas yehh. Orang saya mau ngop doang haha" jawabku sambil tertawa santai padahal aku sudah tahu alasan Ardhi sudah tak disini. "Yeh, kaki gitu pengen ngopi bareng sama Barista ganteng. Canda ganteng haha" ujar Barista tersebut sambil bercanda.  Aku bisa mengenal kerabat kerja Ardhi karena memang aku sering mampir ke coffee shop tempat Ardhi jika sedang memiliki waktu luang atau sengaja mengerjakan tugas sesekali bahkan nongkrong dengan beberpa temanku disana. Ak...

Diary Tifa - Kisah Yang Singkat

Gambar
Hi,  Kenalin nama gua Tifa Aprilia, biasa dipanggil Tifa. Jadi, gua pengen berbagi cerita tentang hal yang pernah gua alamin ditahun 2020 lalu dan ini pure kisah gua sendiri, dan mungkin pernah ada yang mengalaminya. Oke, mulai darimana ya? hehe. Hmm, gimana sih rasanya saat lu udah benar-benar gamau buka hati dengan seseorang karena pengalaman masa lalu yang menyakitkan? Tapi ada orang yang tanpa sengaja dikirim sama semesta buat menyembuhkan luka masa lalu. Tepatnya pertengahan tahun 2020 gua kenal sama seseorang dari dunia maya, yang ternyata adalah teman satu kampus dan satu angkatan dengan gua, tapi kita beda jurusan. Awalnya, pekenalan gua sama dia layaknya pekenalan biasa didunia maya, sampai pada akhirnya dia ngajak gua buat ketemu dan dijemput ke cafe tempat gua kerja saat itu. Ya, gua sempet ambil parttime job sebagai Barista disalah satu coffee shop dikawasan Jakarta Timur. Dan bertemulah sama dia untuk pertemuan pertama, gua pikir agak sedikit canggung karena belum te...

Kelapa Dua dan Sepenggal Cerita (1)

Gambar
Petang itu, aku datang seorang diri ke salah satu coffee shop dikawasan Kelapa Dua, Depok. Kebetulan juga aku usai pulang dari toko buku untuk mencari salah satu buku mata kuliah. Sengaja aku mampir sejenak untuk menghilangkan penat. Ohiya, biasanya aku ditemani oleh salah satu atau beberapa temanku. Namun, mereka sedang sibuk dan rencanaku memang ingin me time saja. Saat aku masuk, langsung ku pesan cappucino favoritku. Salah seorang Barista melayani pesananku. "Baik satu cappucino ice dengan less sugar dan roti bakar ovomaltine ya. Apa ada tambahan, Kak?" Ujarnya "Ngga, itu dulu aja mas" Balasku " Jadi 33 ribu, Kak" Ku keluarkan kartu bank untuk melakukan pembayaran debit. "Untuk minuman ditunggu ya, Kak. Kalau makanan nanti diantar" "Sip" Tak lama kemudian minumannya sudah jadi, lalu ku bergegas ke rooftop dari coffee shop tersebut. "Terima kasih, Mas" "Sama-sama, Kak" Sesampainya dirooftop, ku...

Terima kasih, Juli

Gambar
Seorang teman pernah berkata pada ku bahwa, "Kamu gabisa menahan seseorang yang ingin pergi, yang kamu bisa hanya menikmati detik demi detik saat kamu masih bisa menatapnya." Pun aku teringat tentang seorang teman lain yang berkata, "Orang akan datang dan pergi dari hidupmu. Sekalipun orang tersebut adalah orang yang kamu sayang." Ya, ternyata benar saja. Aku sadar, bahwa ada yang datang hanya untuk memberi pengalaman, ada yang menetap karena kenyamanan. Semua tergantung waktu dan takdir semesta. Karena, sejatinya hidup tidak melulu tentang bahagia. Pasti ada luka yang tersembunyi. Ada isak tangis yang menemani malam hari. Sejenak aku butuh jeda, berkutat pada diksi yang terlalu berantakan dikepala. merangkainya dari kata demi kata, hanya untuk meluapkan segala tentangnya dalam goresan pena. Yang bahkan aku tahu bahwa dia takkan pernah membacanya, namun tak apa. Jujur, mendeskripsikan rasa yang sempat ada memang tak semudah yang dikira. Pikiran akan selalu terarah...

Diaz, apa kabar mu?

Gambar
                    sumber foto: pinterest Dibawah langit jingga, saya melangkah terburu-buru untuk sampai halte busway. Hari ini begitu melelahkan seperti hari-hari biasanya, saya pulang dari aktivitas bekerja. Suara klakson dan asap kendaraan menjadi makanan keseharian semua orang yang pulang dari segala rutinitas. Waktu menunjukkan pukul 17.05 pertanda bahwa bus tujuan saya akan sampai lima menit lagi. Lima menit berlalu, benar saja bus yang saya tunggu datang. Masuklah saya ke dalam sana, tak peduli harus berdesakan. Karena tak ada pilihan, jika menunggu lagi itu akan memakan waktu. Sedangkan saya harus cepat sampai rumah ada pekerjaan yang esok harus selesai. Saya berdiri persis dekat pinggir pintu, mengeluarkan headset dan membaca sebuah buku fiksi berjudul Garis Waktu karya Fiersa Besari. Tiga halte sudah berlalu, tak sengaja saya melihat sepasang anak berboncengan dengan seragam putih abu-abu. Ah, saya jadi teringat tentan...

Dunia yang beda, tak mampu menghapus rasa dalam sekejap mata

Gambar
Sumber foto: pinterest Hujan petang kemarin, menjadi saksi bahwa dua anak manusia pernah saling menyayangi. Sebelum akhirnya salah satu diantara mereka pergi. Ya, hujan hari ini mengingatkan saya pada sosok lelaki yang sempat menjadi alasan saya bahagia setahun lalu, yang mampu menciptakan gelak tawa ketika pilu, yang selalu bertemu karena rindu. Ah, apa saya terlalu mendamba dia sebegitu nya? "Ra? Kamu mau lanjutkan perjalanan ini atau kita berteduh sejenak?" Tanya Diaz saat itu "Hujannya tidak terlalu besar, mungkin baiknya tetap jalan saja, Yaz. Gapapa." Jawabku "Kamu yakin? Nanti kamu sakit, Ra." Katanya untuk meyakinkanku "Iya, aku yakin, Yaz. Lagipula aku suka hujan tau hehehe." Jawabku sambil tertawa cengengesan "Yaudah. Nih, kamu pake ini dulu." Kata Diaz yang sembari melepaskan hoodie birunya dan menyisakan seragam saja "E..eh? Ga usah, kan kamu yang bawa motor. Nanti basah kuyup dan kotor kecipratan ken...