Diaz, apa kabar mu?
sumber foto: pinterest
Dibawah langit jingga, saya melangkah terburu-buru untuk sampai halte busway. Hari ini begitu melelahkan seperti hari-hari biasanya, saya pulang dari aktivitas bekerja. Suara klakson dan asap kendaraan menjadi makanan keseharian semua orang yang pulang dari segala rutinitas. Waktu menunjukkan pukul 17.05 pertanda bahwa bus tujuan saya akan sampai lima menit lagi. Lima menit berlalu, benar saja bus yang saya tunggu datang. Masuklah saya ke dalam sana, tak peduli harus berdesakan. Karena tak ada pilihan, jika menunggu lagi itu akan memakan waktu. Sedangkan saya harus cepat sampai rumah ada pekerjaan yang esok harus selesai.
Saya berdiri persis dekat pinggir pintu, mengeluarkan headset dan membaca sebuah buku fiksi berjudul Garis Waktu karya Fiersa Besari. Tiga halte sudah berlalu, tak sengaja saya melihat sepasang anak berboncengan dengan seragam putih abu-abu. Ah, saya jadi teringat tentang masa-masa itu dengan seseorang di masa lalu. Seorang lelaki yang mampu membuka ruang pertahanan saya empat tahun lalu. "Hey, bagaimana kabar mu?" ucap saya dalam hati.
***
"Ra, kamu lihat langit itu?" Tanya Diaz memecah hening diatas motor tuanya itu
"Lihat. Indah, ya" Jawab Ara tersenyum
"Ada yang lebih indah tau," Kata Diaz
Hening sesaat. Lalu "Mau tau ga?" Lanjutnya
"Engga wle" Ucap Ara singkat dengan ekspresi yang meledek
"Yah, mau aja dong"
"Yauda. Iya, mau"
"Yang lebih indah itu..... perempuan yang lagi dibelakangku sekarang" Kata Diaz merayu
"Hahaha. Basi, Yaz. Lain kali kalo mau gombal baca buku Kahlil Gibran, gih"
"Yahhh, berat deh kalo ngomong ama anak yang suka baca buku. Mana gagal hahaha"
"Kalo ke perempuan lain mungkin kamu gabakal gagal"
"Orang aku maunya kamu. Kenapa yang lain?"
Saya terdiam kala itu, tersentak. Sebenarnya Diaz memanglah Diaz. Saya paham betul bagaimana caranya ia mencairkan suasana. Bagaimana caranya ketika ia perlahan mengambil hati saya.
Bahkan, ketika dikelas saat jam kosong tiba ia memberanikan diri duduk bersama saya, dengan bekerjasama dengan teman saya agar menyingkir sejenak. Kemudian, saya yang sedang asyik membaca wattpad pun terdiam dan membalas sapaannya. Ia berusaha mencairkan saya yang dingin dan cuek. Padahal, jika dipikir ia pun orang yang cuek bahkan lebih dari saya. Apalagi sifat moody-nya hehe. Saya ingat betul bagaimana ia memulai percakapan, bagaimana ia menatap mata saya lekat. Ah, semua tentangnya memang terlalu indah jika di deskripsikan dalam kata. Bahkan, semua tentangnya takkan pernah habis saya rangkai dalam kata yang takkan pernah ia baca sih. Saya ingat bermain game di gawai nya. Senyum dan candanya terlalu manis jika saya bayangkan.
***
Ah, peristiwa empat tahun lalu itu membuat saya jadi merindukannya. Walaupun saya tahu, disana ia sedang menikmati harinya, sedang menjalankan tugas dan pekerjaannya jua. Kini, impiannya telah tercapai. Andai waktu berkenan berhenti sejenak saja saat Saya dan Diaz memakai seragam abu-abu, saat Saya dan Diaz masih menjadi satu, saat Saya dan Diaz masih menjadi kita dalam waktu.
Sayangnya, waktu adalah perjalanan satu arah yang mengharuskan kita terus melangkah. Tanpa menoleh pada kejadian-kejadian yang sudah. Waktu takkan pernah berputar arah, bahkan ketika kita ingat kenangan yang membuat hati berdarah. Terima kasih atas segala kisah yang indah, walaupun kini harus sudah. Setidaknya, kamu pernah singgah, Yaz. Saya tidak pernah menyesal kenal denganmu, sosok yang tulus menyayangi dan sosok yang terlalu indah jika saya ingin memilikimu kembali.
Dibawah langit jingga, saya melangkah terburu-buru untuk sampai halte busway. Hari ini begitu melelahkan seperti hari-hari biasanya, saya pulang dari aktivitas bekerja. Suara klakson dan asap kendaraan menjadi makanan keseharian semua orang yang pulang dari segala rutinitas. Waktu menunjukkan pukul 17.05 pertanda bahwa bus tujuan saya akan sampai lima menit lagi. Lima menit berlalu, benar saja bus yang saya tunggu datang. Masuklah saya ke dalam sana, tak peduli harus berdesakan. Karena tak ada pilihan, jika menunggu lagi itu akan memakan waktu. Sedangkan saya harus cepat sampai rumah ada pekerjaan yang esok harus selesai.
Saya berdiri persis dekat pinggir pintu, mengeluarkan headset dan membaca sebuah buku fiksi berjudul Garis Waktu karya Fiersa Besari. Tiga halte sudah berlalu, tak sengaja saya melihat sepasang anak berboncengan dengan seragam putih abu-abu. Ah, saya jadi teringat tentang masa-masa itu dengan seseorang di masa lalu. Seorang lelaki yang mampu membuka ruang pertahanan saya empat tahun lalu. "Hey, bagaimana kabar mu?" ucap saya dalam hati.
***
"Ra, kamu lihat langit itu?" Tanya Diaz memecah hening diatas motor tuanya itu
"Lihat. Indah, ya" Jawab Ara tersenyum
"Ada yang lebih indah tau," Kata Diaz
Hening sesaat. Lalu "Mau tau ga?" Lanjutnya
"Engga wle" Ucap Ara singkat dengan ekspresi yang meledek
"Yah, mau aja dong"
"Yauda. Iya, mau"
"Yang lebih indah itu..... perempuan yang lagi dibelakangku sekarang" Kata Diaz merayu
"Hahaha. Basi, Yaz. Lain kali kalo mau gombal baca buku Kahlil Gibran, gih"
"Yahhh, berat deh kalo ngomong ama anak yang suka baca buku. Mana gagal hahaha"
"Kalo ke perempuan lain mungkin kamu gabakal gagal"
"Orang aku maunya kamu. Kenapa yang lain?"
Saya terdiam kala itu, tersentak. Sebenarnya Diaz memanglah Diaz. Saya paham betul bagaimana caranya ia mencairkan suasana. Bagaimana caranya ketika ia perlahan mengambil hati saya.
Bahkan, ketika dikelas saat jam kosong tiba ia memberanikan diri duduk bersama saya, dengan bekerjasama dengan teman saya agar menyingkir sejenak. Kemudian, saya yang sedang asyik membaca wattpad pun terdiam dan membalas sapaannya. Ia berusaha mencairkan saya yang dingin dan cuek. Padahal, jika dipikir ia pun orang yang cuek bahkan lebih dari saya. Apalagi sifat moody-nya hehe. Saya ingat betul bagaimana ia memulai percakapan, bagaimana ia menatap mata saya lekat. Ah, semua tentangnya memang terlalu indah jika di deskripsikan dalam kata. Bahkan, semua tentangnya takkan pernah habis saya rangkai dalam kata yang takkan pernah ia baca sih. Saya ingat bermain game di gawai nya. Senyum dan candanya terlalu manis jika saya bayangkan.
***
Ah, peristiwa empat tahun lalu itu membuat saya jadi merindukannya. Walaupun saya tahu, disana ia sedang menikmati harinya, sedang menjalankan tugas dan pekerjaannya jua. Kini, impiannya telah tercapai. Andai waktu berkenan berhenti sejenak saja saat Saya dan Diaz memakai seragam abu-abu, saat Saya dan Diaz masih menjadi satu, saat Saya dan Diaz masih menjadi kita dalam waktu.
Sayangnya, waktu adalah perjalanan satu arah yang mengharuskan kita terus melangkah. Tanpa menoleh pada kejadian-kejadian yang sudah. Waktu takkan pernah berputar arah, bahkan ketika kita ingat kenangan yang membuat hati berdarah. Terima kasih atas segala kisah yang indah, walaupun kini harus sudah. Setidaknya, kamu pernah singgah, Yaz. Saya tidak pernah menyesal kenal denganmu, sosok yang tulus menyayangi dan sosok yang terlalu indah jika saya ingin memilikimu kembali.

Komentar
Posting Komentar