Terima kasih, Juli

Seorang teman pernah berkata pada ku bahwa, "Kamu gabisa menahan seseorang yang ingin pergi, yang kamu bisa hanya menikmati detik demi detik saat kamu masih bisa menatapnya." Pun aku teringat tentang seorang teman lain yang berkata, "Orang akan datang dan pergi dari hidupmu. Sekalipun orang tersebut adalah orang yang kamu sayang." Ya, ternyata benar saja. Aku sadar, bahwa ada yang datang hanya untuk memberi pengalaman, ada yang menetap karena kenyamanan. Semua tergantung waktu dan takdir semesta. Karena, sejatinya hidup tidak melulu tentang bahagia. Pasti ada luka yang tersembunyi. Ada isak tangis yang menemani malam hari.

Sejenak aku butuh jeda, berkutat pada diksi yang terlalu berantakan dikepala. merangkainya dari kata demi kata, hanya untuk meluapkan segala tentangnya dalam goresan pena. Yang bahkan aku tahu bahwa dia takkan pernah membacanya, namun tak apa. Jujur, mendeskripsikan rasa yang sempat ada memang tak semudah yang dikira. Pikiran akan selalu terarah pada kejadian dimasa silam yang bahkan terlalu kejam jika dibayangkan. Namun, entah ia hanya dapat bermetamorfosa menjadi kepingan kata yang tidak begitu indah dibalik kisah yang sudah. Ternyata benar, bahwa yang singgah belum tentu sungguh, yang sungguh belum tentu takkan terpisah.

Karena, semua ada jalannya, semua ada porsinya. Dari semua pembelajaran, dari setiap pengalaman bertemu dengan orang baru membuat aku sadar bahwa semesta tidak sekejam itu. Alasannya, adalah di dalam rasa sakit ada sebuah proses pendewasaan untuk berpikir lebih jernih yang mungkin terdengar sulit. Tapi, percaya saja bahwa kelak semesta akan mempertemukanmu dengan seseorang yang tepat diwaktu yang indah dan itu tak pernah kau sangka sebelumnya. Semangat terus ya. Untuk Juli yang banyak sambat, semoga Agustus bersahabat.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permasalahan dan Keresahan

Pertemuan Tak Disengaja

Quarter Life Crisis - Gua Bingung Harus Apa dan Gimana?