Kelapa Dua dan Sepenggal Cerita (2) END

 


Suatu hari dibulan April, Aku berkunjung lagi ke coffee shop saat aku berkenalan dengan Ardhi. Singkat cerita aku memesan es kopi susu tanpa gula dengan mie pedas level 3. Saat hari itu, aku tidak melihat keberadaan Ardhi lagi. Entah ia sedang libur atau ia pindah tempat kerja, karena Barista yang lain sudah mengenalku juga disini, salah seorang Barista bertanya "Nyari Ardhi, Len?", aku terdiam karena aku tahu rencana Ardhi untuk pindah kota dan otomatis resign dari coffee shop ini. "Ehh... engga, mas yehh. Orang saya mau ngop doang haha" jawabku sambil tertawa santai padahal aku sudah tahu alasan Ardhi sudah tak disini. "Yeh, kaki gitu pengen ngopi bareng sama Barista ganteng. Canda ganteng haha" ujar Barista tersebut sambil bercanda. 

Aku bisa mengenal kerabat kerja Ardhi karena memang aku sering mampir ke coffee shop tempat Ardhi jika sedang memiliki waktu luang atau sengaja mengerjakan tugas sesekali bahkan nongkrong dengan beberpa temanku disana. Aku pun sudah saling chat dengan Ardhi walaupun tidak intens karena kesibukan masing-masing. Jadi, hubunganku dan Ardhi sudah cukup akrab sebagai teman cerita atau berkeluh kesah tentang kehidupan dan lain sebagainya. Yang aku tahu secara singkat Ardhi adalah sosok pekerja keras dan kuat dalam menjalani hidup dengan latar belakang ia yang merupakan seorang broken home. Namun, dengan latar belakangnya yang buruk tidak menjadikan ia pesimis dalam menjalani kehidupan. Ardhi memiliki tekad untuk mengejar beasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Bandung, itulah salah satu alasan ia pindah kota.

Tak lama kemudian, pesananku datang. Saat aku ingin menyantap pesananku, gawaiku berdering dan ku lihat itu adalah nimor yang tak dikenal.

"Halo," ucapku

"Selamat siang, benar ini dengan Alena?"

Ku dengar suaranya adalah seorang perempuan

"Iya, benar. Ini dengan siapa, ya?"

"Kami dari pihak Riumah Sakit Sejahtera. Ingin memberitahukan bahwa saudara Ardhi kecelakaan di tol dari Jakarta saat menuju Bandung. Dan didompetnya hanya ada nomor mba Lena karena itu kami mengabarkan pada mba."

Perasaanku campur aduk seketika, Ardhi memang seorang anak rantau dari Sumatra. Sewaktu ia bekerja menjadi Barista ia hanya ngekos dengan teman yang berasal dari kampungnya. Namun, temannya sudah pulang ke Sumatra.

"Hallo, Mba Lena"

"H...H..Halo, ya sus. Bagaimana kondisi Ardhi sekarang?'"

"Kondisi Ardhi sedang kritis, Mbak. Dan segera butuh donor darah B resus, yang kini stoknya sedang habis di RS ini, Mbak."

"Baik, Sus. Terima kasih, Saya akan segera ke sana."

Aku bergegas meninggalkan pesananku yang belum sama sekali ku cicipi dan berpamitan dengan teman Barista Ardhi tanpa memberitahu kondisi Ardhi. Karena, aku sangat buru-buru tidak mau terjadi apa-apa dengan Ardhi. Entah perasaan apa yang membuatku bergerak untuk segera bergegas. Dan golongan darah kami ternyata sama oleh karena itu aku segera ke RS Ardhi dirawat.

Sesampainya di RS Sejahtera, aku menemui resepsionis dan segera mendonorkan darahku. Setelah itu, suster menjalani prosedur pengambilan darahku untuk didonorkan pada Ardhi. Setelah pengambilan darah, suster memintaku untuk menunggu.

Beberapa saat ku menunggu, dokter keluar dari ruangan kamar Ardhi dirawat. 

"Bagaimana keadaan Ardhi, Dok?"

"Puji Tuhan, Mbak. Keadaan Ardhi membaik kembali. Namun, ia masih membutuhkan banyak istirahat dikarekan benturan yang ia alami cukup keras dan pendarahan yang cukup parah. 

"Alhamdulillah. Terima kasih, Dok"

Kini, aku bisa masuk kamar ruangan Ardhi dirawat. Walaupun Ardhi masih tidur, mungkin efek obat yang dikasih oleh Dokter, aku duduk disebelahnya. Tanpa sadar aku ikut terlelap. 

Beberapa saat, tangan Ardhi bergerak dan memanggilku

"Len, Lena...."

Aku yang dalam posisi terlelap pun bangun perlahan

"Iya, Ar. Alhamdulillah kamu sudah sadar."

"Aku kenapa, Len?":

"Kamu di Rumah Sakit, Ar. Kamu kecelakaan saat dijalan tol menuju Bandung"

"Kemudian, aku dapat informasi dari pihak RS bahwa kamu sempat kritis, tapi alhamdulillah sekarang kamu sudah sadar."

"Len, makasih ya. Sudah peduli sama aku. Aku ga punya siapa-siapa di sini."

"Sssst... jangan bilang gitu, ya. Kita udah cukup kenal walaupun baru sebentar tapi ..."

"Tapi? apa, Len?"

"Enggaaa, udah ah"

Sebenarnya Ardhi tahu mereka memiliki perasaan yang sama, namun Ardhi belum mau untuk berhubungan lebih dari teman. Ia tidak ingin kehilangan Lena, mungkin suatu saat mereka akan menjadi pasangan.

- SELESAI -





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permasalahan dan Keresahan

Pertemuan Tak Disengaja

Quarter Life Crisis - Gua Bingung Harus Apa dan Gimana?