Tentang Hujan dan Kenangan
Petang itu langit terlihat sedikit gelap dan kelabu. Semilir angin pun berhembus, daun-daun menari, perlahan tetes demi tetes air membasahi muka bumi. Hujan pun terus turun hingga malam hari tiba. Hufff, sejuk dan damai sekali, Tuhan. Seraya hujan turun, lamunan dan ingatanku sedikit mengingatnya.
Lebih tepatnya, mengingat kebersamaan dan kenangan saat kami masih bersama, saat semesta memberi rasa yang sangat bahagia. Bersamanya adalah hal yang terindah, namun bersamanya juga adalah luka yang sangat parah.
Tidak, aku tidak berbicara tentang lukanya. Hanya saja, dia yang pernah menjadi pusat semesta dan tempatku berkeluh kesah, kini sudah sangat asing.
Memang, sih, banyak orang yang berkata bahwa aku pasti bisa untuk lupa, aku pasti bisa tanpa hadirnya, aku pasti bisa kembali ceria. Aku tahu tujuan mereka memang baik, tapi memang kadang akal dan hati terlalu munafik.
Kalau kata Juicy Luicy dalam lagu Tampar, sih, gini "Hujan samarkan derasnya, tutup air mata, temani kecewa". Tapi, memang benar, selain suka langit senja, kini aku suka hujan, saat airnya membasahi bumi, seketika itu pula membuat ingatan masa lalu itu kembali.
Ingat, hanya untuk direkam dalam memori, bukan untuk diulangi.

Komentar
Posting Komentar