Tentang Hujan, Rasa & Luka (PART I)
foto by : pinterest
Kita sudah selesai, ya?
Sebelumnya, aku tak pernah menyangka bahwa pertemuan 'kita' terjadi hanya sesingkat ini. Padahal awalnya kamu yang meyakinkanku perihal rasa, aku yang tadinya tidak ingin terlibat dan menjalin hubungan dengan seseorang justru kamu yakinkan aku dengan sebegitu hebatnya.
Terlalu munafik jika aku berkata aku sudah melupakanmu sepenuhnya, terlalu munafik jika aku berkata aku ikhlas dengan keputusanmu yang didasari atas dasar ego-mu itu.
Kamu ingat gak, sih?
Waktu itu tepatnya saat sore hari, saat kita hendak ke kedai kopi untuk mengenal lebih dekat kan hari itu hujan ya. Lalu, kamu belokan motormu ke sebuah toko untuk kita berteduh.
"Hujan, Za. Kamu mau pakai jas ujan punyaku?" tanyamu
"Iya, Al. Ngga, kita tunggu hujannya rada reda dikit ya, kalo aku pakai jas ujan Kamu, nanti kamu sakit," ucapku menolak
"Oke. Aku gak masalah keujanan, aku kan pakai hoodie tebel ini, yaudah kita tunggu ya. Mungkin beberapa menit lagi hujannya reda," jawabmu menenangkan
Perlahan kamu mulai bosan dan mulai mengisap rokok dari tasmu itu. Aku memperhatikan wajahmu dalam diam, walau sedikit tertutup helm.
Sorot matamu begitu indah, Alan. Raut wajah yang begitu menenangkan sangat indah ku pandang bersama dengan suasana sore itu di temani gerimis dan suara jalanan.
"Hmm... nyampe jam berapa ya Za ke cafenya? gak reda-reda nih," katamu seraya bertanya padaku
"Iya nih, sabar aja paling dikit lagi nih... Kalo udah tinggal rintik-rintik kita gas aja, Al" jawabku
"Selalu sabar, Za apalagi bareng ama kamu nunggunya haha," ucapmu santai membuatku salah tingkah saat itu
Alan, kenapa rasa ini semakin dalam ya. Aku menyukaimu, bahkan aku menyayangimu lebih dari rintik hujan yang membasahi bumi. Kataku dalam hati.
Hujan pun reda
"Yok, Al gas aja haha," ajakku
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar