Postingan

Kelapa Dua dan Sepenggal Cerita (1)

Gambar
Petang itu, aku datang seorang diri ke salah satu coffee shop dikawasan Kelapa Dua, Depok. Kebetulan juga aku usai pulang dari toko buku untuk mencari salah satu buku mata kuliah. Sengaja aku mampir sejenak untuk menghilangkan penat. Ohiya, biasanya aku ditemani oleh salah satu atau beberapa temanku. Namun, mereka sedang sibuk dan rencanaku memang ingin me time saja. Saat aku masuk, langsung ku pesan cappucino favoritku. Salah seorang Barista melayani pesananku. "Baik satu cappucino ice dengan less sugar dan roti bakar ovomaltine ya. Apa ada tambahan, Kak?" Ujarnya "Ngga, itu dulu aja mas" Balasku " Jadi 33 ribu, Kak" Ku keluarkan kartu bank untuk melakukan pembayaran debit. "Untuk minuman ditunggu ya, Kak. Kalau makanan nanti diantar" "Sip" Tak lama kemudian minumannya sudah jadi, lalu ku bergegas ke rooftop dari coffee shop tersebut. "Terima kasih, Mas" "Sama-sama, Kak" Sesampainya dirooftop, ku...

Terima kasih, Juli

Gambar
Seorang teman pernah berkata pada ku bahwa, "Kamu gabisa menahan seseorang yang ingin pergi, yang kamu bisa hanya menikmati detik demi detik saat kamu masih bisa menatapnya." Pun aku teringat tentang seorang teman lain yang berkata, "Orang akan datang dan pergi dari hidupmu. Sekalipun orang tersebut adalah orang yang kamu sayang." Ya, ternyata benar saja. Aku sadar, bahwa ada yang datang hanya untuk memberi pengalaman, ada yang menetap karena kenyamanan. Semua tergantung waktu dan takdir semesta. Karena, sejatinya hidup tidak melulu tentang bahagia. Pasti ada luka yang tersembunyi. Ada isak tangis yang menemani malam hari. Sejenak aku butuh jeda, berkutat pada diksi yang terlalu berantakan dikepala. merangkainya dari kata demi kata, hanya untuk meluapkan segala tentangnya dalam goresan pena. Yang bahkan aku tahu bahwa dia takkan pernah membacanya, namun tak apa. Jujur, mendeskripsikan rasa yang sempat ada memang tak semudah yang dikira. Pikiran akan selalu terarah...

Diaz, apa kabar mu?

Gambar
                    sumber foto: pinterest Dibawah langit jingga, saya melangkah terburu-buru untuk sampai halte busway. Hari ini begitu melelahkan seperti hari-hari biasanya, saya pulang dari aktivitas bekerja. Suara klakson dan asap kendaraan menjadi makanan keseharian semua orang yang pulang dari segala rutinitas. Waktu menunjukkan pukul 17.05 pertanda bahwa bus tujuan saya akan sampai lima menit lagi. Lima menit berlalu, benar saja bus yang saya tunggu datang. Masuklah saya ke dalam sana, tak peduli harus berdesakan. Karena tak ada pilihan, jika menunggu lagi itu akan memakan waktu. Sedangkan saya harus cepat sampai rumah ada pekerjaan yang esok harus selesai. Saya berdiri persis dekat pinggir pintu, mengeluarkan headset dan membaca sebuah buku fiksi berjudul Garis Waktu karya Fiersa Besari. Tiga halte sudah berlalu, tak sengaja saya melihat sepasang anak berboncengan dengan seragam putih abu-abu. Ah, saya jadi teringat tentan...

Dunia yang beda, tak mampu menghapus rasa dalam sekejap mata

Gambar
Sumber foto: pinterest Hujan petang kemarin, menjadi saksi bahwa dua anak manusia pernah saling menyayangi. Sebelum akhirnya salah satu diantara mereka pergi. Ya, hujan hari ini mengingatkan saya pada sosok lelaki yang sempat menjadi alasan saya bahagia setahun lalu, yang mampu menciptakan gelak tawa ketika pilu, yang selalu bertemu karena rindu. Ah, apa saya terlalu mendamba dia sebegitu nya? "Ra? Kamu mau lanjutkan perjalanan ini atau kita berteduh sejenak?" Tanya Diaz saat itu "Hujannya tidak terlalu besar, mungkin baiknya tetap jalan saja, Yaz. Gapapa." Jawabku "Kamu yakin? Nanti kamu sakit, Ra." Katanya untuk meyakinkanku "Iya, aku yakin, Yaz. Lagipula aku suka hujan tau hehehe." Jawabku sambil tertawa cengengesan "Yaudah. Nih, kamu pake ini dulu." Kata Diaz yang sembari melepaskan hoodie birunya dan menyisakan seragam saja "E..eh? Ga usah, kan kamu yang bawa motor. Nanti basah kuyup dan kotor kecipratan ken...

Belajar Ikhlas

Gambar
Malam itu, saya mengunjungi sebuah kafe kecil dipinggir kota, yang jauh dari hiruk-pikuk jalan dan bising klakson yang bersahutan. Hari hampir malam, menuju senja yang kian tenggelam. Ya, memang saat itu adalah jam saya pulang dari rutinitas keseharian; kuliah. Lantas saya segera masuk ke dalam kafe tersebut, hari-hari saya memang lebih sering dihabiskan sendiri, entah untuk mengerjakan tugas atau sekedar ingin melepas penat dari keseharian. Saat saya masuk, seorang Barista memberikan salam hangat, kemudian saya pesan kopi favorit saya, yap capucinno dengan sedikit gula. Saya mencari tempat ternyaman untuk mengerjakan tugas kali ini, tepat dipojok dekat tangga terlihat jauh dari keramaian, duduklah saya disana dan membuka laptop dari tas jinjing yang sedari tadi saya bawa. Namun, ketika sedang asyik mengetik dan menyeruput capucinno hangat, tidak sengaja saya melihat sosok yang tidak asing, ya, benar saja. Itu adalah dia, lelaki yang sempat mengisi kekosongan hati, namun lebih ...